Kamis, 06 Juli 2017

CARA MENGUKUR PANJANG KABEL ANTENA

Untuk menyalurkan signal radio kita butuh antenna dan sebagai penghubungnya kita butuh kabel penghantar yang berfungsi menghantarkan gelombang elektromagnetik ke antenna untuk selanjutnya dilepas di udara dan semua itu ada hitungan. Biasanya disebut nge-match dalam istilah breaker, terlalu ngejelimet memang…. Apalagi harus pake menghitungnya… akan tetapi lucu rasanya kalau tidak mengerti sama sekali.. nah untuk itu saya coba sajikan tulisan di bawah.
Oh ya… sebelum memulai ada baiknya ketahui dulu karakteristik, velocity kabel yang hendak kita gunakan.


panjang kabel
(300 : frek) x velocity coax  x kelipatan ganjil , contoh:
frek di 100 Mhz pake kabel rg 58 kabel yang tersedia 14 meter
(300 : 100) x 0.66 x 5 = 9.9 bila terlalu panjang motongnya
(300 : 100) x 0.66 x 7 = 13.86...paling mendekati 14 meter


Contoh penggunaan tabel velocity.
Membuat kabel jumper dengan RG58 di frekuensi 100mhz maka (300 : 100): 2 x 0.66 = 0.99m
apakah velocity ini digunakan juga untuk menentukan panjang antena???, Sebagai contoh kita mau buat antena 1/4 lamda di 100Mhz dan transmisi line kabel rg 58 maka..
(300 : 100): 4 x 0.66= 0.495 m 

SWR JUMPER  (300 : F ): 2 x velocity)

Untuk nge-match coax bisa juga dengan pemancar caranya :
a. Siapkan pemancar yang 5watt saja.
b. Kabel jumper yang sudah diukur pada frekuensi yang diinginkan.                       Nah jumper  ini pesan kepada yang punya  swr analizer.
c. Ujung jumper masuk ke pemancar dan ujungnya lagi ke swr.
d. output swr tutup dengan conector T dan salah satu ujung conector T tsb             tutup dengan dumyload tanpa jumper
e. Ke ujung satu lagi connector T masukan kabel transmisi dan dipotong                 ujungnya sedikit-sedikit sampai meter  swr menunjuk rendah



bila tdk menggunakan SWR Meter walau tidak disarankan akan tetapi bisa juga menggunakan rumus di atas:
Misal pakai RG8 yang tengahnya serabut maka (300 : 100) : 2 x 0.66) = 0.99m, Secara teori panjang
coax untuk jumper maka 1/2 lamda X velocity, misal RG8 tengahnya serabut dengan velocity 0,66 ,  frekuensi 100Mhz  maka (300/100): 2 x 0.66) hasilnya 99cm bila dikalikan 30 maka menghasilkan 29.70m, tetapi pada kenyataannya mungkin lebih atau kurang dari 29.7M dikarenakan kabel coax yang kita gunakan tidak standard (flat) impendansinya akan tetapi usaha ini sudah dapat meminimalisir kerusakan akibat antenna yang tidak nge-match….
Nah selamat mencoba dan semoga sukses.

De YC1RDG/JZ30TFZ





Cable Velocity Factor and Loss Data

(per 100 feet)
TYPE
VF
LOSS @
10 MHz
LOSS @
50 MHz
LOSS @
100 MHz
LOSS @
400 MHz
LOSS @
700 MHz
RG-6/U PE (Belden 8215)
66.0
0.8
1.9
2.7
5.9
8.1
RG-6/U Foam (Belden 9290)
81.0
0.7
1.7
2.5
5.3
7.2
RG-8/U (PE (Belden 8237)
66.0
0.6
1.3
1.9
4.2
5.9
RG-8/U Foam (Belden 8214)
78.0
0.5
1.2
1.7
3.9
5.6
RG-8/U (Belden 9913)
84.0
0.5
1.0
1.4
3.4
5.0
RG-8X (Belden 9258)
82.0
0.9
2.1
3.1
6.6
9.1
RG-11/U Foam HDPE (Beld. 9292)
84.0
0.5
0.9
1.3
2.3
3.3
RG-58/U PE (Belden 9201)
66.0
1.1
2.5
3.8
8.4
11.7
RG-58A/U Foam (Belden 8219)
73.0
1.3
3.1
4.5
10.0
14.2
RG-59A/U PE (Belden 8241)
66.0
1.1
2.4
3.4
7.0
9.7
RG-59A/U Foam (Belden 8241F)
78.0
0.9
2.1
3.0
6.6
8.9
RG-174 PE (Belden 8216)
66.0
3.3
5.8
8.4
19
27
RG-174 Foam (Belden 7805R)
73.5
4.6
14.0 (450)
20.9 (900)
RG-213/U (Belden 8267)
66.0
0.6
1.3
1.9
4.1
6.5
LMR-240
84.0
0.8
1.7
2.5
5.0
6.6
LMR-240UF
84.0
0.9
2.1
2.9
6.0
8.0
LMR-400
85.0
0.4
0.9
1.2
2.5
3.4
LMR-400UF
85.0
0.5
1.0
1.5
3.0
4.1
Davis BuryFlex
82.0
0.5
1.1
1.5
2.9
3.8

(Sources: Belden Catalog, Times Microwave LMR catalog; Davis RF web site; ERI catalog)

Dielectric Type
ns/foot
VF
Solid Polyethylene (PE)
1.54
65.9
Foam Polyethylene (FE)
1.27
80
Foam Polystyrene (FS)
1.12
91
Air Space Polyethylene (ASP)
1.15-1.21
84-88
Solid Teflon (ST)
1.46
69.4
Air Space Teflon (AST)
1.13-1.20
85-90

SEMOGA BERMANFAAT

Rabu, 05 Juli 2017

TIPS MENGGUNAKAN RADIO KOMUNIKASI DI MOBIL

Dalam kondisi terentu, memasang radio komunikasi (rakom) di mobil itu suatu keharusan. Kondisi lalu lintas dan jalan serta kondisi cuaca yang tidak bisa diduga membuat rakom bisa menjadi pilihan alat komunikasi ketika touring atau sekedar perjalanan rutin dalam kota.
Namun demikian, ternyata memasang rakom di mobil tidak asal pasang saja, ada beberapa hal yang harus dipenuhi. Berikut ini 5 tips menggunakan radio komunikasi di mobil.

Pastikan rakom berikut perlengakapannya terpasang baik secara teknis.
Komunikasi menggunakan rakom itu artinya memanfaatkan frekuensi dengan penghantar gelombang radio yang dipancarkan dan diterima oleh antena yang diteruskan ke rakom. Prinsip kerja yang baik adalah bekerja pada frekuensi tertentu dengan VSWR dan impedansi yang baik sehingga bisa resonansi dengan pengguna rakom lainnya pada frekuensi yang sama.

Untuk memastikan rakom terpasang baik secara teknis, diperlukan alat ukur minimal menggunakan SWR meter untuk melakukan proses matching antena. Lebih baik lagi menggunakan analizer supaya impedansi bisa ketahuan secara tepat. Impedansi yang biak adalah sebesar 50 ohm, mulai kabel sampai antena.

Selanjutnya, pastikan penempatan antena secara benar dan tidak mengganggu kendaraan. Lokasi antena yang paling baik adalah tepat di tengah atap mobil. Kekurangan dan kelebihan penempatan antena berdasarkan posisi di mobil dapat dilihat di gambar di bawah ini.

Alternatif memasang antena di mobil. Sumber foto : Kaskus.  http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000009183479/diskusi-antena-pemancar/119
Alternatif memasang antena di mobil. Sumber foto : Kaskus.
Pastikan pemasang kabel power dan antena sudah rapi dan aman supaya tidak terjadi konslet yang bisa membahayakan. Pasang rakom di kabin atau dashboard yang mudah dijangkau dan tidak membahayakan pengemudi.

Memiliki izin komunikasi radio (Call Sign)
Secara aturan, frekuensi radio adalah hal strategis, makanya untuk menggunakan frekuensi radio seharusnya sudah memiliki izin penggunaan frekuensi. Dengan memiliki call sign, kita akan diterima dengan baik di frekuensi dan daerah lain sesuai dengan alokasi frekuensi izin yang dimiliki.

Di Indonesia, izin komunikasi radio bisa bergabung dengan ORARI ataupun RAPI. Masing-masing memiliki alokasi frekuensi dan izin power (watts) yang berbeda. Pada prinsipnya sama, pemerintah memberikan izin kepada pemilik call sign untuk menggunakan frekuensi radio. Yang berbeda adalah RAPI tidak diizinkan berkomunikasi dengan luar negeri, nah ORARI diizinkan berkomunikasi dengan luar negeri.

Prosesnya dapat mendatangi pengurus setempat untuk mendaftarkan. Untuk ORARI harus mengikuti dulu ujian kecakapan amatir radio yang biasanya dilaksanakan setahun sekali, setelah lulus ujian baru memproses izin. Untuk RAPI bisa mengikuti bimbingan organisasi dulu dan selanjutnya memproses izin

Pastikan keamanan berkendara ketika komunikasi.
Untuk menghindari kecelakaan, sebaiknya dipasang handsfree dari rakom ke ekstra mic agar tangan pengemudi dapat bergerak bebas untuk mengemudi. Sebaiknya memang tidak melakukan komunikasi ketika mengemudikan kendaraan.

Ketahui frekuensi lokal dan frekuensi repeater setempat.
Buat catatan kecil di mobil yang menuliskan frekuensi kerja lokal-lokal tempat yang sering dilewati. Selain frekuensi lokal, catat juga frekuensi repeater yang ada. Untuk repeater ORARI untuk VHF. biasanya dupleks minus 600 kHz. Kadang-kadang menggunakan tone juga, tone bisa di-scan menggunakan fungsi tone scan di rakom. Sedangkan untuk repeater RAPI berbeda-beda, jadi pastikan offset dupleks-nya tercatat dengan benar.

Yang paling praktis adalah menyimpan frekuensi-frekuensi yang sering dipergunakan di rakom. Jadi ketika akan menggunakannya tinggal memilih nomor memori nomor berapa atau dapat ditulis menggunakan alfabet.

Pahami dan terapkan etika berkomunikasi.
Last but not least, pahami etika berkomunikasi sesuai aturan. Etika berkomunikasi di frekuensi direct berbeda dengan berkomunikasi di repeater.

Apabila berkomunikasi secara direct, biasanya ada net control atau pengendali. Ketika masuk ke suatu frekuensi, Anda wajib memperkenalkan diri dengan menyebutkan call sign (identitas anggota), dan mengucap salam kepada anggota yang sedang mengudara. Hal ini akan membuat Anda disambut dan dikenal di frekuensi yang baru dimasuki.

Sedangkan apabila berkomunikasi di repeater, biasanya tidak ada net control. Untuk berkomunikasi, bisa langsung memanggil lawan bicara pada spasi pembicaraan orang lain. Karena itu, ketika kita berkomunikasi, pastikan memberikan spasi pembicaraan yang cukup agar orang lain dapat memanggil station lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya tidak mendominasi pembicaraan di repeater, selalu berikan kesempatan kepada orang lain untuk menggunakan repeater.

Demikian tips menggunakan radio komunikasi di mobil. Semoga tips ini membuat semakin asyik berkomunikasi di mobil tanpa mengabaikan keselamatan 

semoga bermanfaat

KEGIATAN DUKOM PMD BERSAMA ORARI LOKAL TANGERANG DALAM ACARA PERAYAAN PECUN 2017